Lensa Sejarah Islam Pahang

Lensa Sejarah Islam Pahang
Lensa Sejarah Islam Pahang (Klik di Gambar)

Pilih Bahasa

Khamis, 10 Ogos 2017

SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUFF DI ALAM MELAYU.


Latar belakang Tasawuff & Sumber.

Pada abad pertama dan kedua Hijriyyah disebut fasa kezuhudan di mana para Sahabat Rasululluah dan para Tabiin  cuba hidup di dalam keadaan serba kekurangan,tidak mengejar harta benda dunia, Pada masa ini belum timbul lagi perkataan tasawuf dan sufi. Perihal kerohanian yang pada masa sini  digelar dengan berbagai sebutan seperti zahid, abid, nasik, qari` dan sebagainya, Displin-displin ilmu tasawuff belum lagi di rekabentuk dengan sempurna. Para pengamal ritual melakukan segala bentuk ritul yang diambil dari semua sumber yang betul dan bercampur2 dari tokoh-tokoh seperti Saidina Abu Bakar, Saidina Umar,Saidina Ali, Salman Al Farisi,Abu Zar al Ghafiri. Pada masa ini belum timbul puak-puak dan sikap fanatic dikalangan umat Islam. Kalau ada pun mereka yang cenderong kepada satu tokoh hanyalah kepada Saidina Ali dari golongan Syiah.

Pada permulaan abad ketiga hijrah mula lahirnya perkataan “ sufi” . Hal itu dikarenakan tujuan utama kegiatan ruhani mereka tidak semata – mata kebahagian akhirat yang ditandai dengan pencapaian pahala dan penghindaran siksa, akan tetapi untuk menikmati hubungan langsung dengan Tuhan yang didasari dengan cinta .Pada fasa ini muncul istilah fana`, ittihad dan hulul. Fana adalah suatu keadaan dimana seorang sufi kehilangan kesadaran terhadap hal-hal fisik ( al-hissiyat). Ittihad adalah keadaan dimana seorang sufi merasa bersatu dengan Allah sehingga masing-masing  memanggil dengan kata aku ( ana ). Hulul adalah masuknya Allah kedalam tubuh manusia yang dipilih.Di antara tokoh pada fasa ini adalah Abu yazid al-Busthami (w.263 H.) dengan konsep  ittihadnya, Abu al-Mughits al-Husain Abu Manshur al-Hallaj ( 244 – 309 H. ) yang lebih dikenal dengan al-Hallaj dengan ajaran hululnya. al-Hallaj dilahirkan di Persia dan dewasa di Iraq Tengah. Dia menghadapi empat tuduhan yang akhirnya membawanya disiksa di tiang salib. Empat tuduhan yang dituduhkan kepadanya adalah,Hubungannya dengan kelompok al-QaramithahUcapannya ” أنا الحقّ ( saya adalah tuhan yang maha benar)Keyakinan para pengikutnya tentang ketuhanannya. Tokoh lainnya adalah Dzun Al Nun al-Mishri ( w. 245 H.) yang dikenal dengan pencetus ma’rifat. Dia pernah belajar ilmu Kimia dari Jabir bin Hayyan. Dia juga dianggap orang yang berbicara pertama kali tentang maqamat dan ahwal di Mesir., al-Hakim al-Tirmidzi (w. 320 H. ) dengan konsep kewalian, Abu Bakar al-Sibli ( w.334 H.)

 Fasa Abad kelima Hijrah

Fasa ini disebut sebagai fasa konsolidasi yakni memperkuat tasawuf dengan dasarnya yang asli yaitu al-Qur`an dan al-Hadits atau yang sering disebut dengan tasawuf sunni yakni tasawuf yang sesuai dengan tradisi (sunnah) Nabi dan para sahabatnya. Fasa ini sebenarnya merupakan reaksi terhadap fasa sebelumnya dimana tasawuf sudah mulai melencong dari koridor syariah atau tradisi     ( sunnah ) Nabi dan sahabatnya. Tokoh tasawuf pada fasa ini adalah Abu Hamid al-Ghazali (w.505 H) atau yang lebih dikenal dengan al-Ghzali. Ia dilahirkan di Thus Khurasan. al-Ghazali dikenal sebagai pemuka madzhab kasyf dalam makrifat. Tentang kesunnian al-Ghazali dikomentari oleh muridnya Abdul Ghafir al-Faritsi,”Akhirnya al-Ghazali berkonsentrasi pada hadits Nabi al-Mushthofa dan berkumpul bersama-sama ahli Hadits dan mempelajari kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih al-Muslim Dia menerima tasawuf dari kelompok persia menuju tasawuf suuni. Itulah sebabnya ia banyak menyerang filsafat Yunani dan menunjukkan kelemahan-kelemahan aliran batiniyyah. Di antara buku karangannya adalah Tahafut al-Falasifah, al-Munqidz Min al-Dlalal dan Ihya` Ulum al-Din. Tokoh lain ialah Abu Al Kassim Abd Karim bin Hawazin bin Abd Malik al Qusyairi yang terkenal dengan panggilan “Al Qusyairi (471H) beliau telah menulis sebuah buku yang di sebut “Risalah al Qusyairiyah” sebanyak dua jilid.


Kedudukan Tasawuff pada abad keenam Hijrah.

.Tokoh –tokoh pada fasa ini adalah Muhyiddin Ibn Arabi atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Arabi ( 560 – 638 H.) dengan konsep wahdah al-Wujudnya. Ibnu Arabi yang dilahirkan pada tahun 560 H. dikenal dengan sebutan as-Syaikh al-Akbar (Syekh Besar). Di masa mudanya, ia pernah menjadi sekretari hakim besar wilayah. Sakit keras yang pernah dialami mengubah sikap hidup yang sangat drastis. Dia menjadi seorang zahid dan abid. Dia menghabiskan waktunya di beberapa kota di Andalusia dan di Afrika Utara untuk bertemu para guru sufi. Pada ketika umurnya tiga puluh tahun pindah ke Tunis kemudia ke Fas. Disini, Ibnu Arabi menulis buku berjudul  al-Isra Ila Maqam al-Asra (الإسراء إلى مقام الأسرى ). Kemudian pergi ke Kairo dan al-Quds yang kemudian diteruskan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ibnu Arabi beberapa tahun tinggal di Mekkah dan disinilah ia menyusun kitab Taj al-Rasail (تاج الرسائل) dan   Ruh al-Quds (روح القدس) dan pada tahun 598 H. Mulai menulis kitab yang sangat terkenal al-Futuhat al-Makkiyyah (الفتوحات المكية). Ahirnya Ibnu Arabi tinggal di Damaskus dan menulis kitab Fushush al-Hikam (فصوص الحِكَم ). Ibnu Arabi meninggal pada tahun 638 H.Tokoh lainnya adalah  al-Syuhrawardi (549 – 587 H.)

Pada abad VI juga terkenal  dengan munculnya “tarekat”  yakni madrasah sufi @ sekolah-sekolah berbentuk kesufian yang bertujuan membimbing calon sufi menuju pengalaman ilahi melalui teknik dzikir tertentu. Oleh sebagian orang dikatakan bahwa munculnya tarekat adalah untuk membantu orang-orang –awam agar ikut merasai pengalam tasawuf karena selama ini pengalaman tasawuf hanya dialami oleh orang-orang tertentu saja ( khawash). Disamping itu kehadiran tarekat juga untuk memagari tasawuf agar senantiasa berada dalam jalan Islam mengikut Sunnah Rasullulah.

Sejarah Perkembangan  Tasawuf di Alam Melayu

Dari segi Linguistik dapat dipahami bahwa tasawuf merupakan sikap  yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap  yang seperti ini hakikatnya pada akhlak yang mulia karena hanya dapat dipandang dengan mengaplikasikannya dalam kebijakan mengambil. Tasawuf juga berperan dalam membersihkan hati sanubari. Kerana tasawuf banyak berurusan dengan dimensi esoterik (batin).
Tasawuf mulai masuk ke Alam Melayu bersamaan dengan masuknya Islam ke Alam Melayu dan tasawuf mengalami banyak perkembangan itu ditandai dengan banyaknya berkembang ajaran tasawuf dan tarekat yang muncul dikalangan masyarakat saat ini yang dibawah oleh para ulama Alam Melayu yang menuntut ilmu di Mekkah dan Madina .

Para pengkaji menyebutkan beberapa bukti tentang besarnya peran para sufi dalam menyebarkan Islam pertama kali di Nusantara. Ia menyebutkan Syekh Abdullah Arif yang menyebarkan untuk pertama kali di Aceh sekitar abad ke-12 M.  Dengan beberapa mubalig lainya. Menurut Hamka: Sumbangan para sufilah yang sangat memperngaruhi tumbuh pesatnya perkembangan Islam di Alam Melayu. Perlu kita ketahui bahwa sebelum Islam datang, dianut, berkembang dan saat ini mendominasi  bahwa telah berkembang berbagai faham tentang konsep Tuhan seperti Animisme, Dinamisme, Budhaisme, Hinduisme. Para mubalig menyebarkan Islam dengan pendekatan tasawuf. Dr Syafiee Abu Bakar  menerangkan bahwa hampir semua daerah yang pertama memeluk Islam bersedia menukar kepercayaannya. Karena tertarik pada ajaran tasawuf yang di ajarkan para mubalig pada saat itu.

Dalam perkembangan tasawuf di Nusantara menurut Azyumadi Azra, tasawuf yang pertama kali menyebar dan dominan di Nusantara adalah yang bercorak falsafi, yakni tasawuf yang sangat filosofis dan cendrung spekulatif seperti al-Ittihad (Abu Yazid Al-Bustami), Hulul (Al-Hallaj), dan Wahda al Wujud (Ibn Arabi). Dominasi tasawuf filsafi terlihat jelas pada kasus Syekh Siti jenar yang dihukum mati oleh Wali Songo karena dipandang menganut paham tasawuf yang sesat. Kemudian pada abad ke-16 kitab-kitab klasik mulai ada dan dipelajari kemudian diterjemahkan dalam bahasa melayu seperti kitab Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali. Kemudian muncullah beberapa tokoh tasawuf asli Alam Melayu seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniri, Syekh Abdul Rauf Singkili, Abdul Samad Al-Palembani, Syekh yusuf Al-Makassari.

Tokoh tasawuf dan karya mereka di Alam Melayu

1)HAMZAH FANSURI (W. 1016 H/ 1607 M)
Hamzah Fansuri diakui sebagai seorang pujangga Islam yang sangat populer sezamannya dan namanya masih menghiasi sejarah kesusastraan melayu. Ia juga adalah ulama dan sufi yang pertama kali menghasilkan karya tulis tasawuf dan ilmu-ilmu dalam bahasa melayu yang sangat bagus dan kemudian menjadi bahasa linguafranka bangsa Alam Melayu. Tempat Hamzah Fansuri belum diketahui sampai sekarang, kata “Fansuri” pada namanya diambil dari nama sebuah daerah di bagian pantai barat Sumatra Utara yang terletak di antara Sibolga dan Singkel yang orang Arab dikenal dengan kata Fansur.

Karya-karya Hamzah Fansuri

Karya-karyanya dalam bentuk syair dan prosa terkumpul dalam beberapa buku yang terkenal seperti Syair Burung Pingai, Syair Dagang, Syair Pungguk, Syair Sidang Faqir, Syair Ikan Tongkol, dan Syair Perahu. Karyanya dalam kajian ilmiah seperti Asarar Al-Arifin fi Bayan Ilm As-Suluk  wa at-Tauhid, Syarb Al-Asyiqin Al-Muhtadi, Ruba’i Hamzah Al-Fansuri.

 Ajaran Tasawuf Hamzah Fansuri

Pola pikir Hamzah Fansuri banyak dipengaruhi oleh Ibn Arabi dalam paham wahdat wujudnya, antara lain: Allah adalah zat yang mutlak dan qadim karena Dia (Allah) sebagai pencipta, dan bahwa Allah itu bersifat Imanen juga tidak bertempat, Hakikat wujud, wujud itu hanya kelihatan banyak tetapi hakikatnya hanyalah satu, semua benda yang ada sebenarnya gambaran dari wujud yang hakiki,Manusia, manusia merupakan tingkat terakhir dari penjelmaan, tingkat yang paling penting, penjelmaan yang paling penuh dan sempurna. Manusia adalah pancaran langsung dari Dzat yang mutlak. Kemudian menurut Hamzah Fansuri adanya kesatuan antara manusia dan Allah.

2)SYEKH ABDUL RAUF AS-SINKILI (1024-1105)

Abdul Rauf As-Sinkili adalah seorang ulama dan mufti besar dari Kerajaan Aceh pada abad ke-17. Nama lengkapnya Syekh abdul Rauf bin Ali Fansuri.
Karya-karya Syekh Abdul Rauf As-Sinkili
1)Mir’at At-Thullab (fiqh Syafi’I bidang mu’amalat)
2)Hidayat Al-Balighah (fiqh tentang sumpah, kesaksian, peradilan, dan pembuktian
3)Umdat Al-Muhtajin (tasawuf)
4)Syams Al-Ma’rifah (tasawuf tentang ma’rifat)
5)Hikayat Al-Muhtajin (tasawuf)
6)Daqa’iq Al-Huruf (tasawuf)
7)Turjuman Al-Mustafidh (tafsir)

b)Ajaran Tasawuf

Beliau berpendapat bahawa  ajaran tasawuf wujudiyyah, sama dengan Nuruddin al-Raniri, yang di anggap sesat dan penganutnya dianggap murtad, akan tetapi berbeda halnya dalam menanggapinya As-sinkili menyikapinya dengan lebih bijaksana. Rekonsiliasi antara tasawuf dan syari’at, Dzikir dapat memperoleh fana’ (wujud Allah), Martabat Wujud Tuhan. Menurutnya, ada tiga martabat perwujudanTuhan.Yaitu Ahadiyyah, Wahdah atau Ta’ayyun Awwal dan Wahdiyyah atau Ta’ayyun Tsani

3.SYEKH YUSUF AL-MAKASSARI ( 1627-1699)

Seorang tokoh sufi  agung yang berasal dari sulawesi. Ia di lahirkan  pada tangga 8 syawal 1036 H. atau bersamaan dengan 3 juli 1629 M. dalam salah satu karyanya ,  ia menulis ujung nama nya denga bahasa arab ‘ Al Makasari ’.naluri fitrah pribadi syekh yusuf  sejak kecil telah menampakkan diri cinta akan pengetahuan. dalam tempo yang relatif  singkat, ia tamat mempelajari  Al Quran 30 juz. Termasuk  juga  penghafal, ia pempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, seperti  ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu bayan, maani, badi, balaghah, dan manthiq. Ia pun belajal pula ilmu fiqih,ilmu usuluddin dan ilmu tasawuf.  Ilmu yang terakhir ini  tampak nya lebih serasi pada diri nyaPada masa syekh yusuf,hampir setiap orang lebih menggemari ilmu tasawuf orang yang hidup di zaman itu  lebih mementingkan mental dan materiel.Syekh yusuf pernah melakukan perjalanan ke yaman. Di yaman,  ia menerima tarekat dari syekhnya yang terkenal yaitu syekh Abdullah Muhammad Bagi-billah.

a)Ajaran tasawuf syekh yusuf Al-Makasari

Syariat dan hakekat.  Syekh yusuf mengungkapkn paradigm sufistiknya  bertolak dari asumsi dasar bahwa ajaran islam meliputi dua aspek: aspek lahir (syariat) dan aspek batin (hakikat). Syariat dan hakikat harus di pandang dan di amalkan sebagai suatu kesatuan.Trasendensi Tuhan. Meskipun berpegang teguh pada transendensi tuhan, ia meyakini  bahwa tuhan melingkupi segala sesuatu  dan selalu dekat dengan sesuatu itu, syekh yusuf mengembangkan istilah al-ihathah (peliputan) dan al-ma’iyyah (kesertaan) kedua istilah itu menjelaskan bahwa tuhan turun (tanazul), sementara manusia naik (taroqi), dari proses ini akan saling mendekatkan antara manusia dengan Tuhan.Insan Kamil dan proses penyucian jiwa . Menurutnya manusia tetap manusia walaupun derajatnya naik, begitu pula dengan Tuhan tetap Tuhan meskipun Tuhan turun kepada hambanya. Penyucian jiwa, menurutnya kehidupan duniawi tidak harus ditinggalkan dan hawa nafsu bukan untuk dimatikan akan tetapi diarahkan menuju Tuhan. Dengan melalui tiga cara yaitu: Akhyar (orang-orang terbaik), Mujahadat asy-syaqa’ (orang-orang yang berjuang melawan kesulitan) dan Ahl adz-dzikr.

4.ABDUL SAMAD AL-PALEMBANGI (/ 1788 M) 

Abdul Samad Al-Palembangi adalah Seorang ulama sufi yang lahir di palembang pada abad ke-18 . Anak kepada Abd Jalil bin Syekh Abdul Wahab bin Syekh Ahmad Al-Mahdani dari Yaman.

a)Karya-karya Abdul Samad Al-Palembangi
1)Hidayat As-Salikin
2)Sair As-Salikin
3)Zahrat Al-Mufid fi Bayan Kalimat At-Tauhid
4)Tuhfat Al-Raghibin fi bayan Haqiqat Iman Al-Mu’minin
5)Nashihat Al-Muslimin wa Tadzkirat Al-Mu’minin fi Fadha’il Al-Jihad fi Sabilillah,
6)Al-Urwat Al-Wutsqa wa Silsilat Uli Al-Ittiqa
7)Ratib Abd Samad Al-Palembani
8)Zad Al-Muttaqin fi Tauhid Rabb Al-Alamin

b)Ajaran Tasawuf al-Palembangi


Menurut al-Palembangi ajaran tentang nafsu dari Imam al-Ghazali masih kurang, ia menambahkan tingkatan menjadi tujuh (amarah, lawwamam, mulhammah, muthma’innah, radhiyah, mardiyah, dan kamilah). Tentang Martabat Tujuh. Menurutnya ada tujuh, yaitu: Ahadiyyatul Ahadiyah, al-Wahidah, al-Wahidiyyah, Alam Arwah, Alam Mitsal, Alam al-Ajsam dan Alam al-Jami’ah. Tentang Syari’at, ia percaya bahwa Tuhan hanya dapat didekati melalui keyakinan yang benar pada Keesahan Tuhan yang mutlak dan kepatuhan pada ajaran-ajaran syari’at. Tentang Ma’rifat, menurutnya mencapai ma’rifat tertinggi tidak hanya bias memandang Allah secara langsung melalui mata hati akan tetapi juga harus terlibat aktif dalam arus kehidupan dunia.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Arkib Blog